Hal ini, menurut Etha Bogar, menghambat eliminasi malaria pada tahun 2030. Padahal, kata dia, persyaratan utama eliminasi malaria yaitu tidak boleh ada kasus penularan setempat selama 3 tahun berturut-turut.
Tantangan utama penanggulangan malaria di Kabupaten Sikka yaitu masih terjadi kasus penularan setempat terutama di 4 kecamatan endemis tinggi yaitu Waiblama, Talibura, Waigete dan Paga. Hal ini disebabkan karena masih banyak tempat perindukan nyamuk yang belum diintervensi, serta kurangnya kesadaran masyarakat di wilayah tersebut untuk pemeriksaan malaria. Sehingga penularan terus berjalan berisiko terjadi penularan di masyarakat.
Menurut Etha Bogar, strategi yang efektif yaitu intervensi lingkungan yang menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk dan pemeriksaan malaria secara massal terhadap 80% penduduk di wilayah-wilayah endemis tinggi dan diobati sampai sembuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
DBD
Kabupaten Sikka juga merupakan endemi DBD. Daerah ini sering terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) dengan siklus 5 tahun. Kasus tertinggi terjadi pada tahun 2020 dengan 1.816 kasus dan 16 kematian.
Berdasarkan data 5 tahun terakhir kasus dan kematian akibat DBD cenderung fluktuatif. Pada tahun 2021 terdapat 183 kasus tidak ada kematian, lalu tahun 2022 dengan 466 kasus dan 3 kematian, tahun 2023 dengan 822 kasus tidak ada kematian, tahun 2024 820 kasus dengan 4 kematian.
“Hingga Nopember 2025 sebanyak 319 kasus, tidak ada kematian. Tahun ini masuk dalam siklus 5 tahun KLB,” ujar dia.


Ikuti Kami
Subscribe












