Tantangan utama penangulangan DBD di Kabupaten Sikka yaitu pelaksanaan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyarmuk (PSN) belum dilaksanakan secara rutin terutama sebelum musim hujan. Selain itu perilaku masyarakat membuang sampah sembarang tempat terutama sampah plastik yang dapat menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk aedes.
“Maka perlu pengelolaan sampah yang baik dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga perilaku hidup bersih dan sehat terutama tidak membuang sampah sembarang tempat agar dapat memutuskan rantai penularan DBD,” ungkap Etha Bogar.
Rabies
Kabupaten Sikka merupakan kabupaten endemis Rabies dengan populasi Hewan Penular Rabies (IIPR) yang sangat tinggi, dan sering menimbulkan kematian pada manusia yang berdampak pada KLB.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan data tren kasus gigatan HPR terjadi peningkatan kasus yang sangat signifikan pada tahun 2023 dan 2024. Pada tahun 2023 terdapat 3.326 kasus gigitan dengan 6 kematian, dan.tahun 2024 terdapat 2.993 kasus gigitan dengan 6 kematian.
Inilah yang membuat Kabupaten Sikka ditetapkan KLB Rabies pada tahun 2023. Hingga Nopember 2015 terdapat 1835 dengan 1 kasus kematian. Dengan demikian status KLB belum dicabut karena masih ada kasus kematian akibat rabies pada manusia.
Tantangan utama penanggulangan DBD di Kabupaten Sikka yaitu implementasi pendekatan One Health belum berjalan baik. Strategi pencegahan pada hewan sebagai sumber utama penularan belum berjalan efektif, terjadi kesenjangan imunitas pada populasi HPR di mana cakupan vaksinasi pada HPR masih jauh dari standar minimal 70% sehibgga tidak terjadi kekebalan kelompok (Herd Immunity). Selain itu masih terjadinya kasus kematian pada manusia.*** (eny)


Ikuti Kami
Subscribe












