Ketika DAK Gagal Wujudkan Hak Kesehatan: Alarm Konstitusi dari Puskesmas Tuanggeo

Avatar photo

- Redaksi

Rabu, 21 Januari 2026 - 07:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 648 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rufolfus PR Mba Nggala

Rufolfus PR Mba Nggala

Pidana harus ditempatkan sebagai ultimum remedium. Namun jika audit menemukan kerugian negara yang disertai perbuatan melawan hukum atau kelalaian berat, hukum pidana tidak boleh dihindari.

Alarm Konstitusi
Kasus Puskesmas Tuanggeo mencerminkan kegagalan sistemik dalam perencanaan, pengendalian risiko, dan akuntabilitas kebijakan publik di wilayah kepulauan. Kepala daerah wajib menetapkan status kegagalan proyek secara terbuka. Audit menyeluruh oleh APIP dan bila perlu BPK harus dilakukan. Sanksi administratif wajib dijatuhkan jika ditemukan kelalaian jabatan. Pidana tetap menjadi ultimum remedium, tetapi tidak boleh dihindari jika terbukti terdapat kerugian negara yang disertai perbuatan melawan hukum.

Negara hukum tidak diukur dari niat baik atau laporan administratif, melainkan dari hasil yang dirasakan rakyat. Ketika fasilitas kesehatan gagal dibangun, yang gagal bukan sekadar kontraktor, melainkan negara yang lalai menjalankan mandat konstitusinya. Puskesmas Tuanggeo adalah alarm keras. Jika alarm ini diabaikan, konstitusi akan terus dilanggar dalam diam.***

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ditulis oleh Rudolfus PR Mba Nggala, praktisi hukum & pegiat media sosial, tinggal di Maumere

Berita Terkait

Jangan Jadikan Nusa Tenggara Timur Seperti Irlandia: Sebuah Kajian Sosial-Budaya
Kapal Ratu Rosari: Legenda Laut Hubungkan Flores dengan Dunia
Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 21:11 WITA

Perkuat Kapasitas Pelaku UMKM, Astra International Gelar Pelatihan Pengolahan VCO di Desa Bloro

Kamis, 5 November 2026 - 15:43 WITA

308 Sekolah Diduga Langgar Pelaksanaan TKA, Kepala SMKS Yohanes XXIII Maumere: Kami Komitmen Sesuai Prosedur dan Ketentuan

Rabu, 4 November 2026 - 13:13 WITA

Realisasi Fisik Hanya 8 Persen, Tim Penyidik Jaksa di Sikka Geledah Dokumen Proyek Pengadaan Watergen Senilai Rp 2,29 Miliar

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:31 WITA

Peduli Kota Maumere Indah, Bank NTT Salurkan CSR Rp 172,5 Juta

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:36 WITA

Door Prize Handphone Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere

Senin, 19 Oktober 2026 - 21:59 WITA

Serunya Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere, SMPK MBC Ohe Beri Ancaman Serius

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:45 WITA

Bukan Sekadar Belajar di Kelas, SMPK Yapenthom 2 Maumere Gandeng Frater Ledalero Ajak Siswa Kenali Diri dan Bertumbuh dalam Kasih

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:26 WITA

49 Tim SMP di Sikka Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere

Berita Terbaru