Pendidikan Kontekstual untuk Pembebasan Sosial di NTT

Avatar photo

- Redaksi

Selasa, 21 Oktober 2025 - 21:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 170 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laurensius Bagus, penulis

Laurensius Bagus, penulis

NTT tak butuh hanya lebih banyak sekolah, tapi sekolah yang membuat anak-anaknya berpikir dan mencintai tanahnya sendiri

DI banyak desa di Nusa Tenggara Timur, sekolah berdiri megah, namun terasa jauh dari kehidupan masyarakat. Di satu sisi, pembangunan fisik berjalan —gedung baru, bantuan pendidikan, dan koneksi internet mulai masuk. Tetapi di sisi lain, anak-anak tumbuh tanpa benar-benar memahami tanah tempat mereka berpijak. Mereka mengenal teori pertanian dari buku teks Jakarta, namun tak tahu cara membaca tanda musim di ladang keluarganya sendiri. Di sinilah jurang antara pendidikan dan realitas kehidupan masyarakat NTT semakin menganga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masalah pendidikan di NTT bukan sekedar kurangnya sarana atau tenaga pendidik. Melainkan ketidaksesuaian antara isi pendidikan dan konteks sosial-budaya masyarakatnya. Kurikulum nasional yang sentralistis dan berorientasi urban-industrial tidak memberi ruang bagi pengalaman lokal untuk diakui sebagai sumber pengetahuan. Anak-anak diajar untuk menghafal konsep ekonomi moderen, tapi tak pernah diajak memahami dinamika pasar lokal di desanya sendiri.

Baca Juga :  Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan

Di sini, kita dapat menimba inspirasi dari Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan asal Brasil. Dalam karya monumentalnya Pedagogy of the Oppressed, Freire menolak model pendidikan “bank” — di mana guru hanya menabungkan pengetahuan ke kepala murid tanpa mengajak mereka berpikir kritis. Pendidikan seperti itu, katanya, menundukkan manusia, bukan membebaskannya. Pendidikan yang sejati adalah proses membangkitkan kesadaran kritis (conscientização), agar setiap orang mampu membaca realitas hidupnya dan bertindak untuk mengubahnya.

Baca Juga :  Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan

Prinsip Freire itu sangat relevan bagi NTT. Pendidikan seharusnya membantu siswa membaca realitas sosialnya sendiri — kemiskinan, ketimpangan, kekeringan — dan menumbuhkan daya cipta untuk menanganinya. Dalam konteks ini, sekolah tidak boleh menjadi ruang asing yang memisahkan anak dari lingkungannya, tetapi menjadi jembatan antara pengetahuan dan kehidupan nyata.

Filsuf Yunani Aristoteles juga menegaskan pentingnya phronesis, kebijaksanaan praktis. Ia menilai bahwa pendidikan sejati melatih manusia untuk mengambil keputusan yang bijak dalam konteks kehidupannya. Phronesis bukan soal hafalan, melainkan kemampuan berpikir etis dan bertindak sesuai situasi konkrit. Di NTT, kebijaksanaan praktis ini bisa berarti kemampuan menanam di lahan kering, menjaga air, atau memelihara ternak secara berkelanjutan.

Berita Terkait

Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Anggota DPRD Sikka Seyogyanya Menulis: Politik Tidak Cukup Hanya Bicara
Maumere dan Politik: Ketika Semua Hal Jadi Bahan Obrolan
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 10:45 WITA

53.971 Unit Rumah di Flores Rusak Akibat Guncangan Gempa

Senin, 24 Agustus 2026 - 09:27 WITA

Gelar Aksi Seribu Lilin dan Doa Bersama, OMK Paroki Wolofeo Galang Dana bagi Korban Gempa Bumi

Senin, 24 Agustus 2026 - 08:32 WITA

Uskup Maumere Kunjungi 92 Pasien RSUD TC Hillers Maumere yang Dirawat di Tenda Darurat

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:21 WITA

Pascagempa Bumi Tektonik, 777,7 Ton Bantuan Mengalir Melalui Maumere dan Labuan Bajo

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 14:09 WITA

Pascagempa Bumi, Belanja Modal di Sikka “Hilang” Rp 12 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:00 WITA

PDI Perjuangan Lepas Kapal RS Laksamana Malahayati Bantu Korban Gempa di NTT

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:20 WITA

Longsor Ekstrim di Palue Akibat Gempa Bumi, Balai Jalan PUPR Kirim 3 Unit Exavator

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:37 WITA

Diaspora Flobamora di Papua Galang Dana untuk Korban Gempa Bumi

Berita Terbaru

Salah satu rumah warga mengalami rusak berat akibat guncangan gempa bumi tektonik di Flores

Bencana Alam

53.971 Unit Rumah di Flores Rusak Akibat Guncangan Gempa

Senin, 24 Agu 2026 - 10:45 WITA