

“NTT tak butuh hanya lebih banyak sekolah, tapi sekolah yang membuat anak-anaknya berpikir dan mencintai tanahnya sendiri”
DI banyak desa di Nusa Tenggara Timur, sekolah berdiri megah, namun terasa jauh dari kehidupan masyarakat. Di satu sisi, pembangunan fisik berjalan —gedung baru, bantuan pendidikan, dan koneksi internet mulai masuk. Tetapi di sisi lain, anak-anak tumbuh tanpa benar-benar memahami tanah tempat mereka berpijak. Mereka mengenal teori pertanian dari buku teks Jakarta, namun tak tahu cara membaca tanda musim di ladang keluarganya sendiri. Di sinilah jurang antara pendidikan dan realitas kehidupan masyarakat NTT semakin menganga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Masalah pendidikan di NTT bukan sekedar kurangnya sarana atau tenaga pendidik. Melainkan ketidaksesuaian antara isi pendidikan dan konteks sosial-budaya masyarakatnya. Kurikulum nasional yang sentralistis dan berorientasi urban-industrial tidak memberi ruang bagi pengalaman lokal untuk diakui sebagai sumber pengetahuan. Anak-anak diajar untuk menghafal konsep ekonomi moderen, tapi tak pernah diajak memahami dinamika pasar lokal di desanya sendiri.
Di sini, kita dapat menimba inspirasi dari Paulo Freire, seorang filsuf pendidikan asal Brasil. Dalam karya monumentalnya Pedagogy of the Oppressed, Freire menolak model pendidikan “bank” — di mana guru hanya menabungkan pengetahuan ke kepala murid tanpa mengajak mereka berpikir kritis. Pendidikan seperti itu, katanya, menundukkan manusia, bukan membebaskannya. Pendidikan yang sejati adalah proses membangkitkan kesadaran kritis (conscientização), agar setiap orang mampu membaca realitas hidupnya dan bertindak untuk mengubahnya.
Prinsip Freire itu sangat relevan bagi NTT. Pendidikan seharusnya membantu siswa membaca realitas sosialnya sendiri — kemiskinan, ketimpangan, kekeringan — dan menumbuhkan daya cipta untuk menanganinya. Dalam konteks ini, sekolah tidak boleh menjadi ruang asing yang memisahkan anak dari lingkungannya, tetapi menjadi jembatan antara pengetahuan dan kehidupan nyata.
Filsuf Yunani Aristoteles juga menegaskan pentingnya phronesis, kebijaksanaan praktis. Ia menilai bahwa pendidikan sejati melatih manusia untuk mengambil keputusan yang bijak dalam konteks kehidupannya. Phronesis bukan soal hafalan, melainkan kemampuan berpikir etis dan bertindak sesuai situasi konkrit. Di NTT, kebijaksanaan praktis ini bisa berarti kemampuan menanam di lahan kering, menjaga air, atau memelihara ternak secara berkelanjutan.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












