Festival Literasi dan Gerakan Siswa Berkarya

0
400
Festival Literasi dan Gerakan Siswa Berkarya
Polycarpus Pada

Peningkatan daya saing mengisyaratkan warga masyarakat harus memiliki keterampilan yang mumpuni. Keterampilan tersebut adalah literasi, kompetensi dan karakter. Warga dituntut untuk memiliki kompetensi yang meliputi berpikir kritis/memecahkan masalah, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.

Sementara itu, untuk memenangkan persaingan, masyarakat harus memiliki karakter kuat yang meliputi iman dan takwa, rasa ingin tahu, inisiatif, kegigihan, inovatif, kemampuan beradaptasi, kepemimpinan, serta kesadaran sosial dan budaya.

Kegiatan literasi menjadi sangat penting untuk memastikan dampak positif dari gerakan peningkatan daya saing bangsa.

Literasi adalah gerakan bersama yang menjadi gerakan nasional yang terintegrasi untuk semua pemangku kepentingan termasuk dunia pendidikan.

Apa pentingnya literasi?
Dilansir dari wikipedia, istilah literasi dalam bahasa Latin disebut sebagai literatus, yang berarti orang yang belajar.

Secara garis besar, literasi sendiri ialah istilah umum yang merujuk pada kemampuan dan keterampilan seseorang dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, juga memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan seseorang dalam berbahasa.

UNSECO pun turut memberikan pengertian literasi, yakni seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif seseorang dalam membaca dan menulis yang dipengaruhi oleh kompetensi di bidang akademik, sosial, nilai-nilai budaya, dan pengalaman.

Akses dan minat pada bahan bacaan dan juga kemampuan literasi berdampak dalam kehidupan masyarakat. Semakin baik kemampuan literasi seseorang, akan semakin baik juga kehidupannya.

Secara konseptual, pengertian literasi yang diadopsi dan disosialisasikan Kemdikbud bukanlah sekadar kegiatan membaca dan menulis.

Lebih dari itu, literasi dipahami sebagai kemampuan mengakses, mencerna, dan memanfaatkan informasi secara cerdas. Penumbuhan budaya baca menjadi sarana untuk mewujudkan warga sekolah, masyarakat, dan keluarga yang literat, dekat dengan buku, dan terbiasa menggunakan bahan bacaan dalam memecahkan beragam persoalan kehidupan.

Selain itu, masyarakat yang literat diyakini memiliki karakter kuat dan menjadi salah satu tujuan Nawacita Presiden Joko Widodo.

Harapannya, dengan adanya Gerakan Literasi Nasional, penyatuan kegiatan dan fokus dari seluruh kegiatan literasi di Indonesia agar dapat tersebar di lingkungan masyarakat.

Gerakan Literasi Sekolah
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) lahir pada 2016 oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud. GLS merupakan gerakan literasi yang aktivitasnya banyak dilakukan di sekolah dengan melibatkan siswa, pendidik, tenaga kependidikan, dan orang tua, dengan menampilkan praktik baik tentang literasi dan menjadikannya sebagai kebiasaan serta budaya di
lingkungan sekolah.

Seperti apa gerakan literasi sekolah?
Pada praktiknya, gerakan literasi sekolah dimulai dengan cara yang sangat sederhana, dengan kegiatan literasi dasar membaca atau menulis selama 15 menit yang dilakukan oleh guru dan murid secara bersama-sama.

Dalam buku panduan Gerakan Literasi Nasional terdapat 6 dimensi literasi yaitu Literasi Baca dan Tulis, Literasi Numerasi, Literasi Sains, Literasi Digital, Literasi Finansial, serta Literasi Budaya dan Kewargaan.

Literasi Baca dan Tulis
Literasi baca dan tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks
tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial.

Literasi Numerasi
Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk bisa memperoleh, menginterpretasikan, menggunakan, dan
mengomunikasikan berbagai macam angka dan simbol matematika untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari; bisa menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb) untuk mengambil
keputusan.

Literasi Sains
Literasi sains adalah pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu
mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi
membentuk lingkungan alam, intelektual dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli dalam isu-isu yang terkait sains.

Literasi Digital
Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

Literasi Finansial
Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan, dan motivasi dan pemahaman agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat.

Literasi Budaya dan Kewargaan
Literasi budaya adalah pengetahuan dan kecakapan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa.

Sementara itu, literasi kewargaan adalah pengetahuan dan kecakapan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat.

SMPK Frater Maumere dan Literasi Nasional
Dalam semangat kebersamaan sekolah memiliki komitmen untuk mengembangkan kegiatan literasi sebagai program unggulan sekolah agar menjadi sekolah model literasi. Karena pada prinsipnya sekolah menyadari pentingnya literasi sebagai bagian dari kompetensi yang sangat esensial dan memiliki nilai hidup yang hakiki dalam tanggung jawab sosial dalam diri setiap siswa.

Literasi bukan sekedar baca tulis tetapi sudah berevolusi ke hal yang lebih luas, maka literasi harus dimaknai secara komprehensif dalam kehidupan berkaitan dengan tantangan zaman.

Kegiatan literasi sekolah harus mampu menyentuh nalar dan naluri anak untuk berekspresi melalui tulisan reflektif dan inspiratif berkaitan budaya serta masalah sosial.

Ada beberapa program yang selama ini dilaksanakan di sekolah sebagai program literasi dasar baca-tulis, yaitu kegiatan pembiasaan setiap 15 menit sebelum pembelajaran siswa membaca berita atau informasi lainnya melalui media cetak atau sumber lainya, membuat pojok baca di setiap ruang kelas, lomba pohon literasi, dan dibangunnya taman baca sekolah.

Atas keaktifan dan partisipasi siswa dalam mengikuti kegiatan literasi sehingga pada tahun 2020 SMPK Frater Maumere menerima Piagam Sekolah Aktif Literasi Nasional dari Gerakan Menulis Buku (GMB) Indonesia.

Mewakili GMB, sosialisator program literasi nasional Adrianus Bareng, S.Pd menyerahkan piagam bersamaan fasilitas lain berupa plakat Sekolah Aktif Literasi Nasional, PIN GMB, dan baliho.

GMB berhasil memotivasi 95 penulis menghasilkan karya. Jumlah karya 50 cerita pendek dan 85 puisi dengan total 135 karya.

Ada dua buku yang menjadi hasil karya siswa dan guru yang sudah dicetak oleh Gerakan Menulis Buku (GMB) pada tahun ini yaitu Antologi Cerpen Siswa Gemu Fa Mi Re Tarian yang Menyatukan Dunia, dan Balada Surat Cinta untuk Pak Menteri. Dan masih ada 6 buku dalam proses editing untuk diproduksi tahun ini.

Setiap tahun sekolah mendorong dan memberikan dukungan kepada siswa dan guru untuk berimajinasi kreatif dalam karya yang bermakna melalui cerpen, puisi, esai atau tulisan lainnya.

Festas di Masa Pandemi
Festival Literasi SMPK Frater Maumere atau Festas Spater Mof sebagai upaya menggerakkan siswa untuk berkarya sekaligus memfasilitasi dan mengakomodir potensi seluruh siswa dalam keterampilan berliterasi dan berkarya. Festas semakin menegaskan bahwa literasi menjadi sangat penting, tidak peduli harus dilaksanakan di masa pandemi.

Semangat Festas ini sebagai motivasi dasar dalam meningkatkan kompetensi siswa agar mampu berpikir kritis, kreatif, inovatif, komunikatif dan bijak dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi digital.

Program ini membuktikan bahwa SMP Katolik Frater Maumere menjadi pioner dalam gerakan literasi sekolah sebagai salah satu sekolah aktif literasi nasional.

Dengan menggabungkan beberapa bidang literasi, yaitu literasi baca tulis, literasi digital, dan literasi budaya mampu mendorong siswa untuk terus belajar, dan menginsipirasi dalam karya yang bermakna untuk kemajuan bangsa.

Pelaksanaan Festas tahun ini dengan mengusung tema umum “Semangat Berkarya Membangun Bangsa” dan tema khusus “Aku Cinta SMPK Frater”.

Koordinator Festas Kosmas L. Moat Abong, S.Pd memilah kegiatan festival dalam dua kelompok. Pertama, Festival Literasi Tingkat SD sedaratan Flores Lembata khusus siswa kelas IV, V dan VI untuk 8 bidang lomba yaitu, Free Fire, Tiktok, Dance Modern, Musik Tradisional, Tarian Tradisional, Solo Vocal, Mendongeng, dan Cipta Baca Puisi.

Sedangkan kelompok kedua adalah Festival Literasi Tingkat Sekolah untuk siswa SMPK Frater Maumere untuk 4 bidang lomba yaitu Story Telling, Tiktok, Free Fire, dan Dance Modern.

Dalam rapat persiapan, Panitia Festas sudah menetapkan panduan atau juknis lomba, di mana semua materi dan hasil karya lomba dibuat dalam bentuk video yang akan dikirim ke panitia lomba melalui koordinator bidang lomba masing-masing.

Panitia juga menyiapkan hadiah berupa uang pembinaan, tropi, sertifikat digital sebagai penghargaan dan apresiasi untuk peserta yang meraih kemenangan.

Kepala Sekolah SMPK Frater Maumere Frater Maria Herman Yoseph, BHK, S.Pd sebagai pimpinan lembaga SMPK Frater Maumere mengharapkan semua peserta lomba sebagai duta literasi dari masing-masing SD untuk terus berkarya dan membuat inovasi literasi sesuai potensi yang dimiliki.***

*) Opini ini ditulis oleh Polycarpus Pada, S.Pd, guru Matematika pada SMPK Frater Maumere

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan ketik komentar anda
Silahkan ketik nama anda di sini