Pertama, apakah kita menyadari diri sebagai kaum terbatas yang menghayati imamat rajawi seorang anggota Gereja untuk menguduskan dan menyucikan kehidupan dunia, di mana pun kita dipercayakan dan diutus?
Kedua, sadarkah kita betapa menjaga keadilan dan kebenaran dan memperjuangkannya dalam setiap amanat tugas publik, memiliki risiko kita mungkin tidak populer dan harus berlawanan dengan arus kehidupan yang tidak mencintai kejujuran dan kebaikan serta kebenaran sejati?
Siapkah kita hadir sebagai terang dalam kegelapan, ataukah kita pun menjadi bagian dari kegelapan itu sendiri ketika kita masuk dalam sistem yang bobrok?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Paul Budi Kleden dalam tulisannya, “Menakar Kualitas Sebuah Pilkada” (2008), mengingatkan betapa kualitas Pilkada tidak hanya dapat ditakar melalui pemilihan, sebab demokrasi bukan hanya soal memilih seorang pemimpin.
Demokrasi adalah keseluruhan pola pikir, tindakan dan kerangka nilai yang berorientasi pada kedaulatan rakyat. Gagasan ini membenarkan kesadaran kita tentang proses yang baik dan benar, akan menghasilkan sebuah sistem kepemimpinan kolektif menuju pembangunan yang adil, merata dan berkelanjutan.
Sistem politik yang hanya sekedar merebut tahta kekuasaan tanpa hati nurani, pada gilirannya mematikan hasrat untuk memajukan pembangunan daerah dari waktu ke waktu.


Ikuti Kami
Subscribe












