Blasius Bapa muda dalam keluarga dikenal sebagai pribadi yang nekat dan berani. Di SMP Yapenthom Maumere, dia sering diam-diam bolos sekolah. Dia membuat surat sakit “bohong” yang ditandatangani ayahnya sendiri. Tanda tangan itu tentu saja hasil tiruan Blasius Bapa.
Blasius Bapa tidak bolos untuk sekedar main atau bersenang-senang. Dia justeru menggunakan kesempatan bolos untuk mengunjungi kerabat-kerabatnya, bahkan sampai yang di gunung-gunung. Tidak heran jika Blasius Bapa sangat mengenal keberadaan kerabat-kerabatnya, sampai yang paling pelosok sekali pun.
Peristiwa bolos ini terjadi berulang kali, dan selalu berhasil. Hingga suatu saat terbongkar juga. Kapitan Petrus Jacobus Bapa tentu saja marah besar, karena Beliau adalah seorang tokoh panutan masyarakat. Tak ayal, Blasius Bapa mendapat peringatan keras dari Sang Ayah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Blasius Bapa ketakutan. Lalu dia nekat lari dari rumah. Gas ke Makasar. Satu tahun di Makasar, Blasius Bapa kembali ke Maumere, lalu lanjut studi sekolah menengah di Ndao Ende.
Nongkrong di Gedung Parlemen
Blasius Bapa nekad merantau ke Jakarta. Dia melanjutkan pedidikan menengah atas di SMA Kanisius. Namun, lagi-lagi masa sekolahnya tidak berjalan mulus.
Masalahnya, Blasius Bapa lebih banyak menghabiskan waktu sekolahnya di Gedung Parlemen di Lapangan Banteng (sekarang Departemen Keuangan).
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












