Maret 1993, beberapa hari sebelum dilangsungkannya Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat, Blasius Bapa dilantik dan diambil sumpahnya menjadi Anggota MPR-RI utusan golongan oleh Ketua DPR/MPR RI Letnan Jenderal TNI (Purn) Wahono.
Kiprah Blasius Bapa sebagai seorang wakil rakyat dalam MPR-RI tidak bisa dilepaskan dari peran Tien Soeharto.
Pada bulan Desember tahun 1992, dalam suatu pertemuan, Tien Soeharto sempat menanyakan khususnya perkembangan dalam organisasi politik yang juga ditekuni Blasius Bapa. Blasius Bapa kemudian menyampaikannya secara tertulis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Surat Blasius Bapa, kemudian diteruskan Tien Soeharto kepada Soeharto. Dua hari kemudian Blasius Bapa mendapat telpon yang memintanya datang ke Sekretariat Negara dan menemui Menteri Sekretaris Negara, Moerdiono.
Blasius Bapa yang tidak tahu mengapa dirinya dipanggil, akhirnya menemui Moerdiono. Moerdino menyampaikan kepada Blasius Bapa perihal pengangkatan dirinya sebagai anggota MPR dari Utusan Golongan.
Kursi yang tersedia tinggal satu, yaitu yang awalnya disiapkan untuk Mgr Leo Soekoto SJ. Uskup Leo sendiri menolak kursi tersebut untuk menjaga netralitas pemimpin Gereja. Maka, kursi itu akhirnya diduduki Blasius Bapa, periode 1993-1998.
Pesan
Blasius Bapa, yang menghormati prinsipil hidup, selalu tegar dan tegas dengan semboyan hidupnya.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












