Kemudian, tanggal 3 Oktober 1965 telah dipastikan keberadaan sebuah sumur di Lubang Buaya yang digunakan untuk membuang jenazah para jenderal yang diculik. Maka, diputuskanlah untuk mengambil jenazah-jenazah tersebut dari dalam sumur pada tanggal 4 Oktober 1965.
Pada tanggal 4 Oktober, Blasius Bapa ikut dalam rombongan Mayjen Soeharto/Panglima Kostrad guna mengangkat jenazah para Perwira Tinggi/Perwira Pertama korban pengkhianatan G30S/PKI di Lubang Buaya.
Blasius Bapa diperintahkan atasannya Brigjen RH Sugandhi untuk ikut ke Lubang Buaya menyaksikan pengangkatan jenazah para Perwira Tinggi dan Perwira Pertama yang menjadi korban pengkhianatan PKI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Karena peranan dan keikutsertaannya secara aktif dalam menumpas pemberontakan G30S/PKI, Blasius Bapa diangugerahi Satya Lencana Penegak berdasarkan SK Menteri Panglima Angkatan Darat yang ditandatangani Jenderal TNI Soeharto.
Pimpinan Harian PPAB
Pada tahun 1966 menjelang pergantian dari Orde Lama ke Orde Baru, Blasius Bapa diangkat sebagai Pimpinan Harian Pusat Pemberitaan Angkatan Bersenjata (PAB). Usianya masih 28 tahun. Dalam perkembangannya, PAB kemudian menjadi Kantor Berita Angkatan Bersenjata, yang langsung bertanggungjawab kepada Brigjend Sugandhi.
Satu hal yang menarik di sini, posisi Pimpinan Harian PAB biasanya hanya diduduki oleh orang-orang dari kalangan Angkatan Bersenjata. Walaupun demikian, Brigjen Soegandhi menilai dan mempercayai Blasius Bapa memenuhi kualifikasi untuk menduduki posisi tersebut.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












