Dengan demikian, Pelabuhan Laurens Say Maumere memegang peran strategis dalam tiga dimensi utama. Pertama, arus keluar hasil bumi dalam skala besar, didominasi komoditas mentah perkebunan dan perikanan. Kedua, arus masuk logistik dari Jawa, terutama dari Surabaya sebagai pusat distribusi nasional. Dan ketiga, konektivitas antarpulau, yang menopang kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat kepulauan.
Gambaran ini menegaskan bahwa Pelabuhan Laurens Say bukan sekadar tempat singgah kapal, melainkan pusat perputaran ekonomi yang kompleks dengan volume, nilai, dan intensitas aktivitas yang sangat tinggi.
Dengan seluruh dinamika tersebut, ramainya aktivitas di Pelabuhan Laurens Say Maumere, tingginya arus keluar hasil bumi, serta derasnya arus masuk logistik dari Surabaya, maka muncul satu pertanyaan mendasar: seberapa besar seluruh perputaran ekonomi ini benar-benar bermuara pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Sikka?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setiap hari, komoditas seperti kelapa, mente, kemiri, cengkeh, dan kakao keluar dalam jumlah besar, baik melalui kapal RoRo, ekspedisi darat-laut, maupun kontainer dari perusahaan seperti Meratus Line. Nilai ekonominya tidak kecil. Ia mencerminkan kerja keras petani, nelayan, dan pelaku usaha lokal dari Kabupaten Sikka, Kabupaten Flores Timur, hingga Kabupaten Lembata.
Namun ironi mulai terasa ketika besarnya arus barang tersebut tidak sebanding dengan kontribusinya terhadap kas daerah. Aktivitas ekonomi yang begitu masif seolah berjalan di atas sistem yang belum sepenuhnya mampu “menangkap nilai” bagi daerah.
Retribusi yang terbatas, lemahnya pencatatan volume riil distribusi, serta belum optimalnya pengelolaan sektor penunjang logistik, membuat sebagian potensi pendapatan justeru mengalir keluar tanpa jejak fiskal yang berarti.


Ikuti Kami
Subscribe












