Masyarakat Palue kreatif dengan memanfaatkan berbagai pangan lokal, termasuk jagung sebagai makanan pokok. Jagung dijemur, ditumbuk, dikeringkan, dan disangrai untuk pengganjal rasa lapar. Kami tumbuh dengan butiran jagung di lambung kami. Ditambah kuah daun kelor dan beberapa ikan kering hasil pengawetan untuk nelayan Palue dan ampas kelapa.
Masyarakat Palue menyebut nasi jagung sebagai lama ke’o. Namun, belakangan tidak semua orang menyebutnya dengan santun. Ada banyak cibiran, jika ada orang yang masih mengonsumsi pangan lokal, seperti jagung atau ubi. Mereka akan distigmatisasi sebagai orang miskin, terjebak pada kenangan masa lalu, dan lain sebagainya.
Hal ini dimulai sekitar tahun 1970-an, ketika pemerintah Indonesia mulai mengampanyekan nasi dan beras yang dianggap sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran. Para guru, tentara dan pegawai negeri yang datang ke Palue memperkenalkan beras putih. Mereka juga mendidik anak-anak agar makan nasi. “Budi makan nasi,” demikian buku-buku teks di sekolah dasar saat itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kami dididik untuk malu jika masih makan-makanan lokal. Saat itu orang-orang tua mulai mengatakan bahwa nasi jagung dan ubi itu bukan untuk kesehatan, tetapi sekadar mengenyangkan atau mengganjal perut. Jadi, meski padi diharamkan ditanam di Palue oleh adat, perlahan beras putih masuk ke pulau kami, awalnya dibawa para pendatang.
Hingga saat ini, di Palue tidak ada tanaman padi, namun kebanyakan warga sudah makan nasi yang harus didatangkan dari luar pulau. Itu membuat kemandirian, juga kerawanan pangan. Bagaimana jika pengiriman beras terhenti? Orang-orang tua memang mengonsumsi makanan lokal, namun jumlahnya semakin berkurang. Anak-anak kebanyakan tidak bisa lagi kenyang tanpa nasi.
Siapa Bakal Mewarisi?
Ironisnya, ketika kini nasi beras putih mulai banyak dikaitkan dengan masalah kesehatan, seperti diabetes dan nasi aneka pangan lokal, seperti jagung mulai dipuji sebagai alternatif pangan lokal, warisan, warisan. Tapi siapa yang mewarisinya? Orang-orang kota yang menyajikannya di restoran mahal, atau kami yang terus bermitra dalam diam, tanpa label, tanpa pamflet?
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












