Nasi jagung Palue bukan romantisme. Ia adalah ingatan pahit yang tetap kami kunyah, dengan gigi yang mulai tanggal satu-satu.
Tapi barangkali, dari situ justeru tampak, bahwa dalam jagung, ada ketahanan yang tidak dipahami oleh dunia yang terlalu bergantung pada beras. Dalam jagung, ada keinginan untuk hidup, tidak peduli seberapa kecil tanah yang tersedia. Ia tumbuh di tanah kering, di sela bebatuan, di ladang yang tak dilirik petani moderen.
Kami menanam jagung tanpa spesifikasi, karena kami tak punya uang untuk membeli. Kami menjemurnya di terik matahari, karena kami tak punya listrik. Dan ternyata, semua itu justeru membuatnya lebih banyak dijual ke luar kota, lalu diganti beras dan bahkan mi instan, yang gizinya tidak jelas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Padahal pangan lokal, bagi kami seharusnya bukan gaya hidup. Tetapi itu adalah cara bertahan hidup.
Kini, tantangan berat untuk mengajar anak-anak di pulau kami adalah menanamkan kembali kesadaran bahwa nasi jagung, ubi, dan kacang-kacang lokal, bukan bentuk kemiskinan. Ia adalah bentuk terima kasih paling kuno. Ia datang dari tanah yang retak, tapi tak pernah ingkar. Ia adalah perlawanan yang tidak berteriak, tapi terus tumbuh di tanah Palue.***
Ditulis oleh Chois Bhaga, warga Palue, petani


Ikuti Kami
Subscribe












