Toleransi, baginya, kata yang jelek, terasa lebih hebat dan egois. Bayangkan, seseorang sangat kurang ajar, tapi kita tetap ‘tolerir” dia, karena tidak tega. Ditarik ke konteks agama, “Meski kamu sesat dan tidak selamat, saya harus harus bertoleransi dengan kamu.”
Sementara, apresiasi mengandung kesetaraan. Di dalamnya terkandung penghargaan dan penghormatan terhadap jalan berbeda yang ditempuh liyan. Apresiasi merupakan buah buddhi atau inteligensia, yang melahirkan kesadaran bahwa semua jalan berbeda itu mengarah ke tujuan yang sama.
Dalam buku KEHIDUPAN Panduan untuk Meniti Jalan ke Dalam Diri (1997) ia menulis, “Agama mirip seperti rakit. Tuhan adalah Tujuan Kita. Memang berbeda warna, bahkan berbeda ukuran, namun tanpa kecuali semua rakit berfungsi sama membantu Anda menyeberangi lautan kehidupan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Hentikan perdebatan soal rakit siapa yang terbaik. Mulailah perjalanan, dan jangan berganti-ganti rakit. Jangan pula duduk-duduk saja mengagumi rakit. Belajarlah keterampilan yang dibutuhkan agar Anda tetap selamat walau di tengah badai, topan, hujan. Jangan sibuk menerangkan betapa indah dan hebatnya rakit Anda. Mulailah berlayar, karena rakit bukan Pantai.”
Anand meraih Culture Doctorate in Sacred Philosophy di World University, Arizona. Di negara bagian yang sama ia memperoleh gelar Ph.D dalam Comparative Religions di University of Sedona.
Sejak sembuh dari leukimia stadium akhir di usia 33 tahun, ia memutuskan untuk membaktikan hidup untuk melayani sesama. Ia meninggalkan profesinya sebagai industrialis, menjual perusahaan garmen yang telah dirintisnya dengan susah payah.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












