la mulai menulis buku-buku yang bertema ajakan meniti jalan ke dalam diri. Menyelami pustaka suci berbagai agama, sehingga banyak orang Indonesia berbeda agama mulai membaca dan mengapresiasi Quran, Injil, Taurat, Bhagavad Gita, Dhammapada dan Sutra Buddhis, dan lain-lain.
Di luasnya samudera ajaran Para Suci di kitab-kitab yang ia selami, ia menemukan mutiara kasih. Mutiara itu dibagikan lewat buku dan ceramah-ceramahnya. Agar, dengan kasih, manusia menjadi berkah bagi sesama makhluk dan semesta raya.
Saat mengunjungi Maumere bulan Pebruari 2012, ia dan empat orang sahabatnya mendatangi Taman Doa Kristus Raja dan Pura Agung. Beraudiensi dengan Yang Mulia Uskup Cherubim Pareira (almarhum).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dan, di mimbar aula Ledalero, Anand Krishna bersama Pater Budi Kleden (sekarang Uskup Agung Ende) dan Pater Philipus Thule berbagi rasa kasih dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah dan Protestan, serta tentu ratusan awam Katolik dan Frater.
Menutup tulisan ini saya ingin mengutip sebaris kata awal di Soul Ouest, otobiografinya yang terbit tahun 2003:
“Sungguh luas tak bertepi kehidupan ini. Perjalanan yang kau tempuh pun tak berujung. Kau butuh koper yang kuat, tak lekang oleh waktu. Kasih satu-satunya jenis yang dapat kau andalkan. Jangan beli merek yang rendah mutu dan nilai. Kasih, berapa pun harganya, jangan menawar. Ia tetap dan selalu pantas berapa pun yang kau bayar. Kasih akan mewarnai perjalananmu dengan rasa percaya diri. Dengan kasih, kau nyaman tentram. Kau dapat menikmati dan merayakan hidup, tertawa dan menyanyi dan menari bersama kehidupan.”
Ditulis oleh Dominggus Koro, meditator, umat Paroki St Gabriel Waioti, tinggal di Maumere


Ikuti Kami
Subscribe












