


TRAGEDI seorang anak Sekolah Dasar di Nusa Tenggara Timur yang mengakhiri hidupnya dan meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya pada Kamis 26 Januari 2026 bukan sekedar kabar duka. Bagi kami, orang-orang NTT, ini adalah tamparan keras, sekaligus tuduhan terbuka terhadap negara yang terlalu lama abai.
Surat itu bukan hanya pesan perpisahan, melainkan dokumen kegagalan kolektif, kegagalan sistem pendidikan, kegagalan perlindungan sosial, dan kegagalan negara dalam memenuhi hak paling dasar anak-anaknya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Anak itu tidak menulis dengan bahasa kebencian. Ia tidak menuduh. Ia bahkan meminta ibunya untuk tidak menangis. Di situlah letak kepedihannya. Seorang anak, dalam usia yang seharusnya dipenuhi mimpi dan permainan, justeru memikul beban psikologis yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang dewasa termasuk negara. Ia pergi dengan kesadaran bahwa ibunya tidak punya uang, bahwa permintaannya untuk buku dan pena adalah beban, dan bahwa kepergiannya mungkin dianggap sebagai jalan keluar.
Pertanyaannya: mengapa seorang anak bisa sampai pada kesimpulan sekejam itu?
Sebagai orang NTT, karni muak jika tragedi ini kembali direduksi menjadi narasi “kemiskinan keluarga” atau “masalah pribadi”. Ini bukan soal satu ibu, satu rumah tangga, atau satu desa. Ini adalah hasil dari kemiskinan struktural yang dibiarkan turun-temurun, di wilayah yang terlalu sering dijadikan objek belas kasihan, bukan subjek pembangunan.
Ayah anak itu meninggal. bahkan sebelum ia lahir. Ibunya menanggung hidup lima anak seorang diri. Ini bukan cerita langka di NTT. Ribuan perempuan di wilayah ini hidup dalam kondisi serupa: bekerja keras tanpa jaminan sosial yang layak, tanpa perlindungan negara yang nyata, tanpa sistem dukungan yang manusiawi. Negara tahu itu. Data kemiskinan NTT selalu muncul di laporan nasional. Tetapi pengetahuan tanpa tindakan hanyalah kebohongan yang rapi.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












