


TANGGAL 6 Pebruari 2025, Anand Krishna berpulang, mengakhiri persinggahannya di Mayapada, Bumi. Dalam term mistisisme Timur, ia telah memasuki Mahasamadhi atau Alam Keseimbangan Sejati.
Obituari ini saya tulis untuk mengenang 365 Mahasamadhi beliau, sekaligus sebuah cara merayakan kehadirannya sebagai seorang pelintas batas. Saya bersyukur lahir sezaman dengan Anand Krishna.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ya, pelintas batas. Siapa pun pembaca buku, atau pernah berjumpa dan berinteraksi dengannya tentu setuju: Anand Krishna menjembatani dan mempertemukan bukan hanya manusia dengan manusia, tapi juga manusia dengan alam semesta dan seluruh makhluk.
Seorang penyiar radio di Santa Barbara, California, menabalkan dia aktivis dan humanis spiritual dalam acara bedah bukunya – Voice of Indonesia (2007). Dan, Svargi Ida Pedanda Putra Telabah memberi gelar Maharishi kepada pendiri Anand Ashram itu.
Anand Ashram, padepokan non-denominasional. Adanya di Sunter, Ciawi, Jogja, Ubud dan Singaraja. Di situ, orang dari berbagai latar bangsa, suku, ras, profesi, agama dan kepercayaan berlatih untuk memberdayakan diri dengan meniti Jalan ke Dalam Diri, dengan Meditasi dan Yoga.
la laksana chef, juru masak yang sangat ahli. la menggali dan mempelajari resep-resep masakan kuno. Ia lalu meracik, mempraktikkan dan mengalami rasa masakan itu untuk kemudian disajikan seturut cara dan selera lidah orang moderen. Berdasarkan pengalaman pribadinya yang sembuh dari leukimia, ia meramu berbagai latihan yang cocok dengan iklim tropis, serta watak dan tingkat kesadaran manusia Indonesia dan bangsa-bangsa sekitarnya.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












