Drama ini mengisahkan suasana pergumulan batin Yeremia sekaligus pernyataan kesetiaannya untuk menunaikan tugas pelayanan demi menyelamatkan umat Tuhan.
Selain dipentaskan di Hokeng, drama Nabi Yeremia juga dipentaskan di Larantuka, Lewoleba, Lela, dan di sebuah gedung pertunjukan di Maumere. Bahkan dalam komunitas kecil para siswa seminari berinisiatif mementaskan drama ini dalam versi mini pada liburan sekolah di kampung-kampung mereka. Pendek kata, drama Nabi Yeremia menjadi trending topic pada masa itu.
“Ordo Watowoko”
Sudah menjadi “tradisi” di Seminari Hokeng — juga di seminari lainnya —menjelang akhir masa belajar, para siswa Kelas 3 mesti menentukan pilihan untuk meneruskan pendidikan di Seminari Tinggi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama berpuluh tahun hanya ada dua pilihan, yaitu ke Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero untuk SVD (Societas Verbi Divini/Serikat Sabda Allah) atau ke Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret untuk Projo/Keuskupan di wilayah NTT.
Medio 1984, datanglah sebuah kabar gembira sekaligus mengejutkan. Bapak Uskup Larantuka ketika itu, Mgr Darius Nggawa SVD, memberi “kebebasan” kepada para seminaris yang akan melanjutkan pendidikan di seminari tinggi, boleh memilih ordo, kongregasi, serikat atau keuskupan apa saja di Indonesia.
Sejumlah teman memilih bergabung ke beberapa seminari tinggi seperti: Serikat Xaverian (SX), Oblat Maria Immaculata (OMI), Missionarii Sacratissimi Cordis Iesu (MSC), Keuskupan Sibolga, Keuskupan Manado, dan Keuskupan Amboina.


Ikuti Kami
Subscribe












