Namun janji ini kembali diklarifikasi pada Rapat Paripurna DPRD Sikka dengan agenda Keterangan Pemerintah terhadap Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi DPRD Sikka. Pada kesempatan tersebut, Bupati Juventus mengklarifikasi dengan memberi pernyataan bahwa 20.000 itu adalah total rumah tidak layak huni, sedangkan pemerintahannya hanya akan membangun sebanyak 3.068 unit rumah tingal terima kunci. Bagi masyarakat, ini adalah awal yang mengecewakan, karena janji kampanye berubah begitu cepat saat pembahasan RPJMD.
Informasi terbaru yang mengemuka adalah Pemkab Sikka mencanangkan untuk membangun rumah layak huni dengan modal per unit sebesar Rp 40.000.000. Terkait besaran angka ini apakah cukup untuk membangun sebuah rumah layak huni, penulis belum mendalami, belum bertanya kepada mereka yang ahli dalam perencanaan bangunan, dll.
Tapi jika ini menjadi program, maka dengan asumsi per tahun dibangun 610 unit rumah, maka uang yang harus dikeluarkan setiap tahun adalah sebesar Rp 24,4 miliar. Ini hanya menghitung pembangunan rumah sebesar Rp 40 juta per unit, dan mengabaikan biaya pembelian tanah, dll.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa program unggulan yang penulis paparkan di atas hanya contoh tentang ketidaksesuaian janji kampanye dan rencana realisasi program kerja. Masih banyak program yang jika kita bedah dengan serius, maka kita akan menemukan tidak runutnya cara pemerintahan baru merumuskan program kerja prioritasnya.
Janji Maumere Baru: Sebuah Utopia
Dari semua perdebatan yang mengemuka di publik, kita akhirnya sampai pada pertanyaan reflektif yang erat kaitannya dengan pembahasan RPJMD Sikka, yaitu seperti apakah Maumere Baru itu?
Jika Bangsa Israel dijanjikan Tanah Kanaan, Tanah Terjanji yang berlimpah susu dan madu oleh Musa, maka akan seperti apa Maumere Baru yang dijanjikan Bupati dan Wakil Bupati Sikka kepada rakyatnya? Jika seluruh janji kampanye ini berhasil dilaksanakan dengan baik, kita akan berada di titik mana?


Ikuti Kami
Subscribe












