Dalam perkembangan, seiring dengan pertumbuhan penduduk serta letak Dusun Ngolo dan Dusun Mole yang jaraknya jauh dari Desa Pemana, maka pada tahun 1999 Desa Pemana dimekarkan menjadi 3 yaitu Desa Pemana (Desa Induk), Desa Gunung Sari (Ngolo) dan Desa Samparong (Mole).
Pasca pemekaran, Desa Pemana tetap membagi wilayah desa dalam 4 dusun yaitu Dusun Mole, Dusun Buton, Dusun Mawar, dan Dusun Melati, didukung 9 RW dan 19 RT.
Selama 58 tahun, dinamika kepemimpinan mewarnai demokrasi di Pemana. Setelah La Paesa (1966-1971), tercatat 11 pemimpin Desa Pemana baik sebagai definitif, Pelaksana Harian, maupun Penjabat.
Para pemimpin itu adalah La Baco (1972-1974), La Paesa (1975-1989), H Mohammad Ali H Syukur (1990-1998),
La Peledin (Plh, 1998-1999), Baharudin (1999-2008), La Peledin (Plh, 2009), La Ampo (2010-2016), LDSR da Gama (Penjabat, 2016), Aloysius GN Parera (Penjabat, 2016-2017), La Ampo (2017-2023), dan Martinus Mustari Ipir (Penjabat, 2023 hingga sekarang).
Menang
Sebuah tempat tentunya memiliki nama dengan makna tersendiri. Begitu juga Desa Pemana. Siapa yang memberi nama Pemana? Apa alasan diberi nama Pemana? Apa artinya Pemana?
Tidak ada dokumen tertulis yang bisa menjadi referensi. Namun, bukan berarti sejarahnya tidak bisa ditelusuri. Penjabat Kepala Desa Pemana Martinus Mustari Ipir mengungkapkan cerita lisan yang dituturkan masyarakat setempat.



Ikuti Kami
Subscribe












