Dilema Keselamatan Kerja Nelayan Kecil

Avatar photo

- Redaksi

Kamis, 24 Juli 2025 - 13:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 281 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yohanes Don Bosco Ricardson Minggo

Yohanes Don Bosco Ricardson Minggo

Ketiadaan sistem pelaporan dan pendataan yang terintegrasi menyebabkan banyak kasus tidak terdokumentasi secara memadai. Kekosongan data ini pada akhirnya menjadi hambatan dalam menyusun kebijakan yang berbasis bukti (evidence based policy), serta melemahkan upaya negara dalam merancang intervensi strategis yang responsif terhadap kebutuhan perlindungan nelayan skala kecil.

Pemerintah Indonesia sejatinya telah menyusun Program Nasional Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Tahun 2024-2029, yang bertujuan memperkuat budaya keselamatan dan menurunkan angka kecelakaan serta penyakit akibat kerja.

Namun, apabila dikaji secara kritis, dokumen kebijakan tersebut memperlihatkan kecenderungan bias struktural terhadap pekerja sektor formal. Tidak ditemukan satu pun bagian yang secara eksplisit menargetkan pekerja sektor informal di bidang kelautan dan perikanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Padahal, menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), lebih dari 859 nelayan di Indonesia tergolong sebagai nelayan kecil yang bekerja secara mandiri tanpa akses terhadap perlindungan hukum, pelatihan K3, maupun jaminan sosial ketenagakerjaan.

Ketiadaan pengakuan terhadap kelompok ini bukan sekadar kelemahan administratif, melainkan juga bertentangan dengan prinsip-prinsip dan standar internasional seperti International Labour Organization, Food and Agriculture Organization dan International Maritime Organization.

Terlepas dari keberadaan standar-standar tersebut, hingga saat ini Indonesia belum sepenuhnya mengadopsi dan mengintegrasikan ketentuan internasional ke dalam kebijakan nasionalnya.

Berita Terkait

Jangan Jadikan Nusa Tenggara Timur Seperti Irlandia: Sebuah Kajian Sosial-Budaya
Kapal Ratu Rosari: Legenda Laut Hubungkan Flores dengan Dunia
Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:45 WITA

Bukan Sekadar Belajar di Kelas, SMPK Yapenthom 2 Maumere Gandeng Frater Ledalero Ajak Siswa Kenali Diri dan Bertumbuh dalam Kasih

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:26 WITA

49 Tim SMP di Sikka Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:49 WITA

Groudbreaking Kampung Nelayan Merah Putih di Wuring, Bupati Sikka: Kita Dukung Ekosistem Ekonomi Kelautan yang Terintegrasi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:27 WITA

Pemerintah Gandeng Perbankan, Bikin Cantik Wajah Kota Maumere

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:00 WITA

Tanggapi Isu Daerah, Undana dan Pemkab Sikka Jajaki Kerja Sama Strategis Tahun 2027

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:04 WITA

Kabar Gembira! SMKS Yohanes XXIII Maumere Buka Jurusan Kecantikan dan SPA, Tenaga Didik Seorang Guru Muda Cantik

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:35 WITA

Femi Bapa Resmi Jadi Sekda Sikka

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:38 WITA

3 WNA dan 1 WNI Terseret Arus di Perairan Pangabatang Maumere, Ditemukan Selamat

Berita Terbaru