Di satu sisi, demokrasi membawa kemajuan signifikan, tetapi di sisi lain justeru memproduksi banyak kemunduran. Dalam bukunya, Pos Realitas, Yasraf Amir Piliang menegaskan bahwa ada dua wajah demokrasi, yaitu demokrasi sebagai realitas kehidupan sosial sehari-hari dan demokrasi sebagaimana ia direpresentasikan sebagai citra di dalam berbagai media informasi.
Sejarah perjalanan panjang politik di Indonesia memperlihatkan satu fenomena yang menarik. Kita dapat menyaksikan sendiri bahwa bangunan politik negeri ini dibangun di atas praktik-praktik penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan.
Kita menyaksikan secara langsung para elit politik menggunakan mobil mewah, rumah mewah harta kekayaan berlimpah, sementara rakyat dibiarkan terus merana dalam kemiskinan. Tindakan KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) semakin merajalela bertumbuh subur sehingga otoritas hukum positif terkubur. Para koruptor merasa di atas hukum. Mereka menilai akan dibela oleh intitusi yang mempekerjakan mereka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kalau masih terusik hati nuraninya, maka para koruptor mengalokasikan sebagian uang hasil korupsi untuk kepentingan agama, atau pembangunan rumah ibadah. Dengan berbuat amal seperti itu maka dosa dan kejahatan yang mereka lakukan sudah tertebus.
Setelah melalui semua proses tersebut para koruptor mulai meminta pertolongan para pemuka agama atau para pakar Kitab Suci untuk mengutip teks-teks Kitab Suci atau ayat-ayat yang bisa membenarkan tindakan amal tersebut.
Kalau para koruptor membangun rumah mewah maka diundanglah pastor atau ulama untuk memberkati dan mendoakan agar tidak kelihatan secara nyata kalau itu merupakan hasil dari korupsi yang dia lakukan.


Ikuti Kami
Subscribe












