Dalam paradigma ini, basis-basis normatif validitas hukum tidak ditentukan berdasarkan ajaran dua-dunia Platonis, di mana seolah-olah terdapat tataran ideal atau prapositif yang menginspirasi hukum yang berlaku.
Sebaliknya validitas hukum harus ditafsirkan sebagai ungkapan dari sebuah masyarakat komunikatif konkrit tertentu.
Demokrasi deliberatif menghargai sikap saling belajar untuk mengerti dari posisi partner diskursus. Seperti arogansi eksklusivisme agama yang dapat memandang para warganegara sekular sebagai ‘jiwa-jiwa yang tersesat’, arogansi sekularisme juga dapat dimiliki para warganegara sekular jika mereka menilai agama sebagai irasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setiap kebenaran, dalam tatanan sosial selalu berbenturan dan berkompetisi dengan kebenaran- kebenaran lainnya. Karena itu, relasi kebenaran dengan kekuasaan selalu memicu perdebatan.
Di satu sisi, setiap kebenaran mengklaim absolutisme dalam tafsiran tentang dunia dan relasi manusia dengan dunia. Kesejatian hidup manusia meminta kelugasan pilihan moral rasional yang masuk akal. Kebohongan dan pemandangan sepele dari masa lalu jelas tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Habermas berpandangan, tindakan komunikatif (interaksi) dan bukan tindakan instrumental merupakan tindakan dasar manusia. IntersubjektIvitas yang terungkap dalam komunikasi, bertujuan untuk mencapai pemahaman timbal-balik. Lewat pemahaman tersebut kita menemukan rasionalitas komunikatif.


Ikuti Kami
Subscribe












