Demokrasi yang diuraikan Plato dalam Politeia amat negatif. Menurut Plato dalam sistem demokrasi rakyat sendiri-lah yang memerintah. Oleh karena mereka telah menggulingkan sistem oligarkhi maka kebebasan menjadi tuntutan utama.
Setiap warga menghendaki kebebasan yang seluas-luasnya. Tapi dengan demikian negara menjadi sulit diatur, kekacauan timbul di mana-mana, pelanggaran moral, pemerasan dan pemerkosaan terhadap martabat manusia mewarnai kehidupan sehari-hari.
Dalam kekacauan ini mereka sangat mendambakan tampilnya seorang yang kuat yang bisa menyelamatkan keadaan. Hal inilah yang kemudian memberikan legitimasi kekuasaan penuh dalam satu orang. Dan kemudian menghasilkan bentuk pemerintahan baru yang dikenal dengan sistem tirani.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Terlepas dari sejarah demokrasi, baiklah kita bertolak pada sejarah kebenaran. Berkaca dari dua kasus yakni mitos asal-usul orang Buton di Pulau Seram dan diskursus Indonesia peradaban tua, saya ingin mengajukan bahwa pondasi kebenaran sejarah dalam konteks sosial bukanlah semata koherensi atau plausibilitasnya. Melainkan juga faedahnya untuk mengangkat atau mempertahankan harkat satu kolektivitas di antara keadaan-keadaan lainnya.
Hal ini memperlihatkan sesuatu yang berlaku, baik pada komunitas etnisitas maupun komunitas kebangsaan.


Ikuti Kami
Subscribe












