New York Times pernah melaporkan bahwa seorang siswi sekolah menengah di Amerika Serikat menghabiskan lebih dari 300 dollar setiap bulan hanya untuk membelanjakan barang-barang mewah seperti pakaian mode, hiburan, junk food, alkohol dan narkoba. Jumlah ini hampir sama dengan pendapatan rata-rata tahunan satu keluarga di Haiti.
Sebagian besar negara di Amerika Latin memiliki pendapatan per kapita di bawah 1000 dollar. Contoh, Bolivia, 470 dollar; Honduras, 720 dollar; Nicaragua, 770; El Salvador, 820 dollar; Peru, 1000 dollar; Columbia, 1300 dollar; Chile, 1430 dollar.
Kondisi kemiskinan ekstrim ini mendorong lahirnya pertanyaan, bagaimana Gereja Katolik dapat mewartakan Kerajaan Allah yang membebaskan, sehingga dapat dimengerti dan dirasakan oleh umat Amerika Latin yang berjuang untuk keluar dari lembah penderitaan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertanyaan ini dibahas dalam pertemuan kedua dan ketiga Konferensi Wali Gereja Amerika Latin di Medellin (1968) dan Pueble (1979).
Di dalam dua dokumen yang dihasilkan dalam dua pertemuan tersebut ditegaskan bahwa kondisi masyarakat Amerika Latin merupakan akibat dari struktur-struktur ketergantungan, ketidakadilan, dan penindasan.
Bukan pembangunan, melainkan pembebasan merupakan jawaban yang tepat atas persoalan ini.
Bertolak dari pengalaman penindasan selama ratusan tahun dan eksploitasi seluruh benua oleh bangsa Eropa dan Amerika Utara serta persoalan penderitaan massal masyarakat Amerika Latin, para uskup dan penasihat teologi yang berkumpul di Medellin mengajukan pertanyaan radikal.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












