Paus Fransiskus dan Teologi Pembebasan

Avatar photo

- Redaksi

Sabtu, 26 April 2025 - 03:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 849 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pater Doktor Otto Gusti Madung, SVD

Pater Doktor Otto Gusti Madung, SVD

Metz juga manyangsikan apakah dalam paradigma teologi transendental itu “sejarah“ direfleksikan secara serius atau sebailiknya direduksi ke dalam “kesejarahan“ (Geschichtlichkeit) yang abstrak perwujudan eksistensi manusia. Apakah sejarah di sini tidak lebih dari sekadar “panggung“ eksistensi individual manusia?

Teologi politik Eropa dan kontribusinya bagi proses deprivatisasi iman Kristiani merupakan prasyarat niscaya bagi konstruksi teologi pembebasan. Para pencetus teologi pembebasan sangat dipengaruhi oleh cara kerja teologi politik dan karena itu dapat dikatakan bahwa teologi pembebasan merupakan aplikasi teologi politik untuk konteks Amerika Latin. Akan tetapi dari perspektif kondisi sosio-politik masyarakat Amereika Latin, mereka juga menyadari kerentanan ideologis dari teologi politik Eropa ini.

Metz memang mendefinisikan teologi politik sebagai ikhtiar untuk merumuskan dan mewartakan kabar gembira Kristiani di tengah kondisi masyarakat kontemporer.  Definisi ini tentu saja langsung memprovokasi pertanyaan, bagaimana cara mengetahui syarat-syarat masyarakat kontemporer yang merupakan prasyarat internal teologi tersebut? Pendekatan metodologis macam mana yang dipilih guna mentematisasi syarat-syarat masyarakat kontemporer itu secara betanggung jawab?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Hugo Assmann, teologi politik gagal mengembangkan kritik ideologi karena dia tidak menggunakan analisis sosial ekonomis dalam mentematisasi realitas sosial kontemporer. Hugo Assmann menulis, “Teologi pembebasan menjembatani analisis infrastruktur sosial dengan sumber-sumber iman. Tidak mungkin ada teologi politik yang layak menyandang nama ini, yang harus mengungkapkan aspek-aspek kritis iman, tanpa menggunakan sebuah bahasa analisis. Hal itu selalu berarti pilihan akan sebuah instrumen analisis tertentu dan hal itu akhirnya merupakan sebuah langkah etis“.

Teologi pembebasan pada tempat pertama tidak berkembang di dalam diskursus akademis menara gading universitas.  Gustavo Gutierrez mendefinisikan teologi pembebasan sebagai “refleksi kritis atas praksis historis dalam terang cahaya iman“.

Di balik refleksi kritis tersebut kita dapat menemukan tiga langkah yakni proses melihat, menilai, dan bertindak. Dengan pemahaman akan keniscayaan keterlibatan dalam perjuangan kaum tertindas sebagai “Sitz im Leben” sesungguhnya dari teologi pembebasan, Gereja Amerika Latin bukan saja untuk pertama kali dalam sejarahnya mendapatkan kesadaran tentang kedaulatan kulturalnya, melainkan juga menampilkan sebuah metode berteologi baru.

Berita Terkait

Jangan Jadikan Nusa Tenggara Timur Seperti Irlandia: Sebuah Kajian Sosial-Budaya
Kapal Ratu Rosari: Legenda Laut Hubungkan Flores dengan Dunia
Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:31 WITA

Peduli Kota Maumere Indah, Bank NTT Salurkan CSR Rp 172,5 Juta

Rabu, 21 Oktober 2026 - 20:43 WITA

SMP Negeri 1 Maumere Cetak Prestasi, Raih Juara Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:36 WITA

Door Prize Handphone Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere

Senin, 19 Oktober 2026 - 21:59 WITA

Serunya Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere, SMPK MBC Ohe Beri Ancaman Serius

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:45 WITA

Bukan Sekadar Belajar di Kelas, SMPK Yapenthom 2 Maumere Gandeng Frater Ledalero Ajak Siswa Kenali Diri dan Bertumbuh dalam Kasih

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:49 WITA

Groudbreaking Kampung Nelayan Merah Putih di Wuring, Bupati Sikka: Kita Dukung Ekosistem Ekonomi Kelautan yang Terintegrasi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:27 WITA

Pemerintah Gandeng Perbankan, Bikin Cantik Wajah Kota Maumere

Kamis, 8 Oktober 2026 - 10:23 WITA

Bupati Sikka “Tampar” ASN: Jangan Lihat Pekerjaan Hanya sebagai Rutinitas Administrasi

Berita Terbaru