Metz juga manyangsikan apakah dalam paradigma teologi transendental itu “sejarah“ direfleksikan secara serius atau sebailiknya direduksi ke dalam “kesejarahan“ (Geschichtlichkeit) yang abstrak perwujudan eksistensi manusia. Apakah sejarah di sini tidak lebih dari sekadar “panggung“ eksistensi individual manusia?
Teologi politik Eropa dan kontribusinya bagi proses deprivatisasi iman Kristiani merupakan prasyarat niscaya bagi konstruksi teologi pembebasan. Para pencetus teologi pembebasan sangat dipengaruhi oleh cara kerja teologi politik dan karena itu dapat dikatakan bahwa teologi pembebasan merupakan aplikasi teologi politik untuk konteks Amerika Latin. Akan tetapi dari perspektif kondisi sosio-politik masyarakat Amereika Latin, mereka juga menyadari kerentanan ideologis dari teologi politik Eropa ini.
Metz memang mendefinisikan teologi politik sebagai ikhtiar untuk merumuskan dan mewartakan kabar gembira Kristiani di tengah kondisi masyarakat kontemporer. Definisi ini tentu saja langsung memprovokasi pertanyaan, bagaimana cara mengetahui syarat-syarat masyarakat kontemporer yang merupakan prasyarat internal teologi tersebut? Pendekatan metodologis macam mana yang dipilih guna mentematisasi syarat-syarat masyarakat kontemporer itu secara betanggung jawab?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Hugo Assmann, teologi politik gagal mengembangkan kritik ideologi karena dia tidak menggunakan analisis sosial ekonomis dalam mentematisasi realitas sosial kontemporer. Hugo Assmann menulis, “Teologi pembebasan menjembatani analisis infrastruktur sosial dengan sumber-sumber iman. Tidak mungkin ada teologi politik yang layak menyandang nama ini, yang harus mengungkapkan aspek-aspek kritis iman, tanpa menggunakan sebuah bahasa analisis. Hal itu selalu berarti pilihan akan sebuah instrumen analisis tertentu dan hal itu akhirnya merupakan sebuah langkah etis“.
Teologi pembebasan pada tempat pertama tidak berkembang di dalam diskursus akademis menara gading universitas. Gustavo Gutierrez mendefinisikan teologi pembebasan sebagai “refleksi kritis atas praksis historis dalam terang cahaya iman“.
Di balik refleksi kritis tersebut kita dapat menemukan tiga langkah yakni proses melihat, menilai, dan bertindak. Dengan pemahaman akan keniscayaan keterlibatan dalam perjuangan kaum tertindas sebagai “Sitz im Leben” sesungguhnya dari teologi pembebasan, Gereja Amerika Latin bukan saja untuk pertama kali dalam sejarahnya mendapatkan kesadaran tentang kedaulatan kulturalnya, melainkan juga menampilkan sebuah metode berteologi baru.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












