Jika Paus Fransiskus mengatakan bahwa “tantangan kita dewasa ini bukan ateisme ketika memberikan tanggapan atas rasa dahaga umat manusia atas Allah“, kemiripan dengan pandangan teologi pembebasan menjadi terang benderang.
Teolog Jon Sobrino menyerukan agar Gereja lebih menaruh perhatian pada idolatria ekonomi pasar dan bukan ateisme sebagai ancaman riil bagi orang miskin dan Gereja. Bagi Sobrino, kritik terhadap idolatria jauh lebih biblis dan relevan bagi kondisi dunia kita yang penuh dosa.
Paus Fransiskus berseberangan pandangan dengan Paus Benediktus XVI ketika memberikan perhatian khusus pada idolatria ekonomi pasar dan mengabaikan persoalan ateisme.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan merujuk pada Seruan Apostolik Evangelii Gaudium, kita dapat merumuskan sekurang-kurangnya tiga persamaan antara teologi pembebasan dan pandangan teologi Paus Fransiskus.
Pertama, persamaan pemahaman tentang Kerajaan Allah. Baik Paus Fransiskus maupun teologi pembebasan menggarisbawahi makna aktual dan praktis Kerajaan Allah tanpa menolak aspek eskatologisnya.
Pesan eskatologis dalam dua perspektif tetap terjalin erat dengan iman akan wahyu diri Allah yang memberikan pengharapan. Kemudian, pengharapan ini menggugat nilai dan makna kerajaan tersebut bagi dunia konkret masa kini. Sebab, agar kerajaan itu datang, maka harus didirikan. Untuk itu dituntut agar hal-hal tertentu harus diubah hari ini.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












