Kedua, urgensi tentang perubahan struktural dalam melakukan perubahan sosial. Situasi ketimpangan sosial dan kondisi orang miskin pada tingkat global membutuhkan perubahan sosial yang radikal. Terdapat sejumlah hal dalam jaringan sosial yang membutuhkan perubahan hingga ke akar-akarnya. Hal ini menuntut usaha dan kemauan keras setiap individu untuk melakukan perubahan.
Dalam konteks seperti ini, kenyataannya, Ajaran Sosial Gereja sudah memberikan penekanan pada usaha-usaha individual tersebut. Akan tetapi, perubahan struktural seperti itu menuntut jaringan institusional pada level nasional dan internasional terjadinya perubahan secara efektif dan berkelanjutan.
Berbicara tentang hak atas milik pribadi, misalnya, terdapat kebutuhan riil untuk mendorong sebuah perubahan radikal. Tentu milik pribadi seperti laptop, hp, mobil, balpoin, dll tidak digugat di sini. Kita perlu menata kembali organisasi sistem kepemilikan pribadi dalam konteks kapitalisme seperti perusahan dan sarana-sarana produksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kebijakan institusional akan membantu menata sebuah sistem ekonomi yang berbasiskan distribusi kesejahteraan dan bukan akumulasi kekayaan.
Seperti teologi pembebasan, Paus Fransiskus merasa tidak cukup hanya menyampaikan seruan moral bagi setiap orang untuk melakukan perubahan sturuktur sosio-ekonomis. Paus Fransiskus menghendaki perubahan yang lebih radikal lagi daripada yang ditawarkan oleh tradisi Ajaran Sosial Gereja.
Ketiga, pandangan tentang orang miskin. Bagi para teolog pembebasan, orang-orang miskin adalah locus theologicus prioritas di mana kekuatan misioner injili mendapatkan kepenuhannya.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












