Jadi, karya evangelisasi berarti penguatan posisi kaum miskin di tengah kehidupan kristiani. Karya evangelisasi diwarnai oleh dua hal dasar, yaitu Gereja bergerak menuju kaum miskin dan usaha membawa kaum miskin ke dalam Gereja. Hal ini menimbulkan gugatan terhadap prioritas-prioritas dalam cara orang mengekspresikan imannya.
Mengikuti ajaran Thomas Aquinas yang mendefinisikan iman sebagai “assent (persetujuan) to the truths of Christianity,” Kekristenan tradisional menekankan ortodoksi sebagai kriteria iman seseorang, kendatipun karitas (karya amal) tetap menempati posisi penting juga.
Para teolog pembebasan yakin bahwa ortopraksis, bagaimana orang menghidupi imannya, harus mendapatkan prioritas. Bekerja dengan orang miskin untuk mengatasi ketidakadilan harus mendapat prioritas ketimbang mendidik orang kaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penutup
Tulisan ini coba menunjukkan hubungan antara teologi pembebasan dengan pandangan teologi Paus Fransiskus seperti tampak dalam seruan apostolik Evangelii Gaudium, kendatipun kesamaan itu masih dapat ditemukan juga di dalam dokumen-dokumen lainnya. Akan tetapi artikel singkat ini tentu saja tidak dapat menampung semua kekayaan relasi antara keduanya.
Kesamaan ini menjadi awal rekonsiliasi antara Vatikan dengan teologi pembebasan. Rekonsiliasi ini sangat penting bagi karya misi Gereja Katolik karena teologi pembebasan mampu menawarkan model pewartaan yang menjadikan karya misi Gereja aktual dan relevan untuk perjuangan dan kehidupan umat manusia dewasa ini.
Kemiskinan dan ketidakadilan global menuntut Gereja untuk terlibat lebih efektif lagi dalam mewartakan Kerajaan Allah yang membebaskan. Teologi pembebasan dan Paus Fransiskus menghendaki adanya perubahan yang lebih radikal demi menciptakan tatanan global yang lebih adil. Hal ini menuntut keterlibatan politik gereja secara global yang seharusnya lebih signifikan dari yang sekarang.
Halaman : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Selanjutnya


Ikuti Kami
Subscribe












