Legitimasi Kekuasaan, Epistemologi Demokrasi, dan Daya Pertimbangan Politik: Refleksi Filsafat Politik bagi Masa Depan Demokrasi di Indonesia

Avatar photo

- Redaksi

Minggu, 19 April 2026 - 12:59 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

Reporter : Vicky da Gomez Editor : Redaktur Dibaca 372 kali
facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pater Otto Gusti Ndegong Magung membawakan orasi ilmiah saat pengukuhan Guru Besar Filsafat Politik, Sabtu (18/4)

Pater Otto Gusti Ndegong Magung membawakan orasi ilmiah saat pengukuhan Guru Besar Filsafat Politik, Sabtu (18/4)

Dalam kaitan dengan fragmentasi ruang-ruang diskursus, mulai bermunculan elemen-elemen ruang publik yang di satu sisi menampilkan karakter diskursus publik, tetapi di sisi lain berlangsung di ruang-ruang otonom tanpa relasi satu dengan yang lain. Akibatnya ialah menguatnya fragmentasi sosial. Horison bersama dalam memberikan kritik atau evaluasi atas proyek politik semakin menipis dan kabur. Formasi opini publik pun mengalami proses radikalisasi berdasarkan efek dari polarisasi sosial.

Bangsa Indonesia merupakan salah satu negara di mana penduduknya adalah salah satu pengguna media sosial terbesar di dunia. Ruang politik setiap hari diisi dengan perbincangan di platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan WhatsApp. Keberadaan platform ini di satu sisi memperluas partisipasi politik warga, namun di sisi lain telah melahirkan sejumlah persoalan epistemologis yang berdampak pada kualitas demokrasi.

Pertama, gejala echo chambers berdampak pada pertarungan politik elektoral baik pada level pilkada maupun pemilihan umum tingkat nasional. Algoritma media sosial selalu menampakkan konten yang sejalan dengan selera pengguna. Akibatnya, netizen jarang berinteraksi dengan pandangan yang berseberangan dengan referensinya. Hal ini berdampak pada ketidakmampuan untuk melihat pluralitas sebagai sesuatu yang wajar dalam politik, tetapi dipandang sebagai ancaman bagi identitas diri dan kelompok. Polarisasi yang semakin radikal dalam beberapa pemilu terakhir memperlihatkan secara kasat mata bahwa ruang digital telah memperkokoh dikotomi antara “kami” dan “mereka”. Polarisasi ini bahkan terus berlanjut kendati kontestasi elektoral telah selesai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedua, maraknya grup-grup media sosial tertutup sebagai ruang publik mini telah memproduksi fragmentasi diskursus. Di sini, media sosial telah menciptakan apa yang dinamakan algorithmic enclaves, yakni ruang komunikasi digital yang mempertemukan pengguna dengan pandangan yang selaras dengan identitas dan preferensinya sendiri. Grup-grup media sosial ini tentu saja berkontribusi pada perluasan partisipasi politik. Namun di sisi lain, forum-forum ini cenderung menciptakan informasi yang tidak terverifikasi. Akibatnya, setiap komunitas media sosial mengkonstruksi realitasnya sendiri dan mempersulit terbentuknya horison bersama sebagai basis untuk mengevaluasi dan mendiskusikan kebijakan publik. Komunitas seperti ini akan kehilangan konsensus dasar tentang fakta sebagai basis untuk deliberasi publik.

Ketiga, pengerahan buzzer politik dan konstruksi opini terorganisir memperburuk kondisi ruang publik politik. Opini publik bukan lagi dibangun atas dasar argumentasi rasional, tapi diproduksi lewat strategi viralitas dan amplifikasi emosional. Hal ini berdampak pada tergerusnya legitimasi epistemologis demokrasi. Keputusan politik tidak diambil atas dasar pertimbangan rasional, tetapi hasil dari mobilisasi emosi sesaat. Kenyataan ini melahirkan demokrasi prosedural minus substansi dan basis epistemik. Akibat lebih jauh dari krisis demokrasi ini adalah hilangnya kepercayaan warga pada institusi politik dan hukum.

Pada saat informasi terfragmentasi dan narasi bertabrakan satu dengan yang lain tanpa adanya ruang klarifikasi kolektif, setiap orang cenderung meyakini sumber yang berasal dari afiliasi politiknya. Kondisi ini membuat polarisasi dan radikalisasi pandangan politik semakin tak terjembatani, sehingga deliberasi publik tentang kebijakan politik menjadi tidak mungkin lagi.

Berita Terkait

Jangan Jadikan Nusa Tenggara Timur Seperti Irlandia: Sebuah Kajian Sosial-Budaya
Kapal Ratu Rosari: Legenda Laut Hubungkan Flores dengan Dunia
Tiba Masa Tiba Akal, Gempa Flores: Antara Tragedi Kemanusiaan dan Politik Pencitraan
Spanyol versus Argentina, Pertarungan Dua Filosofi Menuju Tahta Dunia
Kasus Febrie Adriansyah dan Bahaya Cara Berpikir Hitam Putih
Empat Negara di Tangga Juara
Sengketa Tanah Nangahale: Perjumpaan antara Jejak Kolonial dan Status Kepemilikan
Pembubaran Ibadah dan Kebebasan Beragama: Antara Perlindungan Konstitusi dan IMB
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:45 WITA

Bukan Sekadar Belajar di Kelas, SMPK Yapenthom 2 Maumere Gandeng Frater Ledalero Ajak Siswa Kenali Diri dan Bertumbuh dalam Kasih

Kamis, 15 Oktober 2026 - 14:26 WITA

49 Tim SMP di Sikka Ramaikan Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar Kebangsaan di SMKS Yohanes XXIII Maumere

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:49 WITA

Groudbreaking Kampung Nelayan Merah Putih di Wuring, Bupati Sikka: Kita Dukung Ekosistem Ekonomi Kelautan yang Terintegrasi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 14:27 WITA

Pemerintah Gandeng Perbankan, Bikin Cantik Wajah Kota Maumere

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:00 WITA

Tanggapi Isu Daerah, Undana dan Pemkab Sikka Jajaki Kerja Sama Strategis Tahun 2027

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:04 WITA

Kabar Gembira! SMKS Yohanes XXIII Maumere Buka Jurusan Kecantikan dan SPA, Tenaga Didik Seorang Guru Muda Cantik

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:35 WITA

Femi Bapa Resmi Jadi Sekda Sikka

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:38 WITA

3 WNA dan 1 WNI Terseret Arus di Perairan Pangabatang Maumere, Ditemukan Selamat

Berita Terbaru